Menjadi Pemimpin

Nama: Afifah Zahra Agista

NIM: F24100111

Laskar 21

Tugas cerita inspirasi dari diri sendiri

Masa SMA adalah masa-masa yang paling indah, begitu kata orang. Saya sendiri belum

dapat mengatakan apakah masa SMA saya adalah masa yang paling indah atau bukan.

Bisa jadi, masa-masa yang akan datang dalam kehidupan saya justru jauh lebih indah.

Namun, saya dapat mengatakan satu hal dari masa SMA saya. Yaitu bahwa saya belajar

banyak sekali hal-hal penting selama masa SMA itu, sekaligus mengenal orang-orang

yang luar biasa.

Salah satunya adalah ketika saya diminta untuk mengimami shalat berjamaah (saat itu

kami hendak shalat zuhur pada hari jum’at, dan para murid laki-laki tentu saja sudah

melaksanakan shalat jum’at, sehingga saya hanya mengimami jama’ah perempuan,

itupun hanya termasuk beberapa teman dan kakak kelas yang lumayan dekat dengan

saya). Langsung saja saya menolak. Bukan apa-apa, namun saya merasa diri saya

belum cukup untuk sanggup mengimami orang-orang yang saya kagumi dan hormati.

Singkat kata, saya merasa diri saya masih berada dalam level yang sangat rendah kalau

dibandingkan dengan mereka. Namun, karena bujukan terus menerus (yang sedikit

memaksa), saya pun akhirnya mengalah dan mengambil tempat sebagai imam.

Memang, dari awal saya tahu bahwa saya tidak cukup percaya diri untuk menjadi

imam. Namun, apa yang terjadi ternyata sungguh di luar perkiraan saya. Menjadi imam

ternyata jauh, jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Saya langsung menyadari

hal ini begitu saya mengangkat tangan untuk takbiratul ihram. Suara saya saat

mengumandangkan takbir terdengar sedikit bergetar karena begitu banyak emosi yang

saya rasakan pada saat itu. Takut, karena saya harus memimpin sesuatu yang saya tidak

biasa melakukannya, ragu-ragu karena takut salah, namun, ada juga sedikit perasaan

senang yang terselip di balik itu semua, karena saya mendapatkan kepercayaan dari

mereka. Di saat yang bersamaan, saya juga mempertimbangkan, surat pendek apa yang

harus saya baca berikutnya, surat apa yang tidak terlalu panjang namun juga tidak

terlalu pendek. Di saat ruku’ dan sujud, saya terus-menerus mempertimbangkan berapa

lama sebaiknya saya bersujud, karena saya tahu bahwa ada beberapa orang teman

saya yang biasa shalat dengan tempo yang lambat, sementara saya juga tahu sebentar

lagi bel tanda istirahat siang berakhir akan berbunyi. Sulit sekali untuk berkonsentrasi

pada shalat saya sendiri. Ketika akhirnya saya mengucapkan salam untuk mengakhiri

shalat kami, saya sudah hampir menangis karena merasa bahwa saya telah gagal

dalam melakukan tugas yang sesederhana ini, dan juga karena saya merasa saya telah

mengkhianati kepercayaan dan harapan yang diberikan oleh teman-teman saya, orang-

orang yang sangat saya sayangi dan orang-orang yang tidak ingin saya kecewakan.

Mungkin, baru kali itulah saya mendapat sedikit gambaran tentang bagaimana sulitnya

menjadi seorang pemimpin. Memimpin jama’ah yang terdiri dari beberapa orang saja

sudah sulit, apalagi harus memimpin sebuah negeri? Demikian salah satu kakak kelas

saya mengomentar. Mungkin, karena melihat saya yang sudah hampir menangis, ia

mengatakan itu. Kemudian ia menambahkan sambil sedikit bercanda, bahwa seharusnya

yang menjadi presiden negara Indonesia adalah orang yang menjadi imam di Istiqlal.

Saya hanya mengiyakan sambil tertawa.

Tapi, sungguh, menjadi pemimpin itu berat. Itulah yang saya rasakan saat itu.

Bagaimana harus membuat keputusan, kapan harus melakukan sebuah tindakan yang

tepat, kapan harus memperhatikan orang lain sementara tidak menelantarkan yang

lainnya, beban untuk menjaga sebuah kepercayaan yang telah diberikan, ditambah

dengan rasa sayang dan kasih kepada orang-orang yang kita pimpin, dan hal-hal lainnya

yang tidak dapat saya jelaskan dengan kata-kata, membuat tugas untuk memimpin itu

berat. Sangat berat.

Suatu hari nanti, mungkin kita harus mencalonkan imam di masjid Istiqlal sebagai

presiden, ya?

Comments

Tanggung Jawab

Nama   : Afifah Zahra Agista

NIM    : F24100111

Laskar : 21

Cerita inspirasi dari orang lain
Dulu, sewaktu masih duduk di sekolah dasar, kita diajarkan mengenai suatu hal yang

bernama ‘tanggung jawab’. Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan

agar kita menerima sesuatu yang di namakan hak. Dengan bertanggung jawab,kita

akan dipercaya orang lain,selalu tepat melaksanakan sesuatu,mendapatkan hak dengan

wajarnya. Jika kita melalaikan tanggung jawab,maka kualitas dari diri kita mungkin

akan rendah. Namun, sudahkah kita melaksanakan tanggung jawab sebagaimana

seharusnya?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan sebuah artikel dari seorang teman, tentang

anak-anak yang sudah menjadi pahlawan dalam usia yang begitu belia. Salah satunya,

adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang bernama Lin Hao, yang pada waktu itu

masih duduk di bangku kelas 2 sebuah sekolah dasar.

Suatu hari, terjadi gempa bumi, yang mengakibatkan bangunan di mana Lin Hao dan

teman-temannya bersekolah runtuh. Seluruh kelas, dan bahkan seluruh sekolah, panik

dan berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing. Wajar saja, di tengah kengerian

dan ketakutan, insting manusia pasti akan bertindak untuk menyelamatkan dirinya

sendiri terlebih dahulu. Namun, setelah berhasil menyelamatkan diri, bocah bernama

Lin Hao ini justru berbalik arah dan kembali ke kelasnya semula, dan menolong dua

orang temannya yang masih tertinggal di dalam kelas, tersangkut di antara puing-puing

bangunan sekolah.

Kenapa Lin Hao mau mempertaruhkan nyawa untuk menolong kedua temannya itu?

Ketika ditanya demikian, dengan dia menjawab ringan, seolah itu hal yang sudah jelas

dan bukan sesuatu yang istimewa, “Aku adalah ketua kelas dan sudah seharusnya aku

bertanggung jawab atas teman-temanku.”

Begitu membaca cerita tersebut, saya tersentak dan serta-merta mengagumi keberanian

Lin Hao untuk kembali dan menyelamatkan temannya. Akui saja, banyak di antara

kita yang mungkin tidak akan mampu untuk kembali dan menyelamatkan seorang pun

dalam situasi seperti yang dialami oleh Lin Hao. Beberapa di antara kita mungkin malah

hanya akan meratap dan menangis menghadapi musibah yang tengah berlangsung, dan

bukannya berusaha untuk menolong yang lainnya. Namun, Lin Hao, ia berani untuk

menyelamatkan temannya yang sudah terperangkap di antara puing bangunan, saat

ia sudah berhasil menyelamatkan dirinya sendiri, dan dalam situasi dimana tak akan

ada seorangpun yang menyalahkannya jika ia hanya menyelamatkan dirinya sendiri.

Sungguh berani, bukan?

Akan tetapi, yang paling membuat saya terkesan adalah kesadaran Lin Hao terhadap

tanggung jawab yang dimilikinya. Sebagai seorang ketua kelas, ia bertanggung

jawab atas teman-temannya, dan bahkan dalam keadaan terjepit seperti itu, ia masih

melaksanakan tanggung jawabnya. Saya pun mulai membandingkan diri saya dengan

Lin Hao. Sudahkan saya melaksanakan seluruh tanggung jawab saya? Sudahkan

saya? Dan ternyata, jawabannya adalah belum. Bahkan di waktu biasa, di waktu

dimana saya seharusnya dapat dan harus melakukan tanggung jawab saya, saya belum

melaksanakannya.

Saya rasa, saya belum mengerti betul makna dari tanggung jawab, yaitu “siap

menerima kewajiban atau tugas”. Saya melalaikan tugas dan kewajiban saya, dan

terus-menerus mengatakan,”itu bukan salahku,” dan melimpahkannya kepada orang

lain, ketika seharusnya sayalah yang disalahkan, karena saya yang telah menerima

beban bernama tanggung jawab itu. Saya pun teringat dengan sebuah kalimat, yaitu:

“Anda tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya pada

hari ini”. (Abraham Lincoln)

Kalau begitu, apakah saya akan terus-terusan lari dari tanggung jawab saya? Kemudian

saya teringat suatu hadits:

“Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas

kepemimpinan itu”. (Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim)

Apakah saya bisa lari dari diri saya sendiri? Kemudian, saya berpikir, tidak! Mustahil

saya bisa terus melarikan diri dari tanggung jawab saya, jika itu artinya saya harus

melarikan diri dari diri saya sendiri. Dan tentunya, mustahil bagi anda juga, kan? Pada

akhirnya, kita semua akan menerima pertanggung jawabah kita, kelak, di akhirat

Nah, semoga kisah ini memberikan inspirasi bagi anda semua. Dan semoga, besok, kita

akan menjadi manusia yang bisa menjalankan tanggung jawab kita dengan sempurna,

dimanapun, dan kapanpun. Setidaknya, ayo kita coba untuk melaksanakan tanggung

jawab kita, sebagai manusia.

Comments (1)